Minggu, 03 April 2011

MEMAHAMI Yang Tengah Terjadi (STUDI KEBUDAYAAN)

Cultural studies atau marilah kita bahasa indonesiakan menjadi studi - studi kebudayaan€, yang sejak dulu cenderung diremehkan para pemikir ”serius”, kalangan ”high brow”, barangkali relevan untuk
sedikit kita tengok ulang saat ini. Khususnya untuk media massa, alangkah membosankan ketika zaman telah berubah sederas ini, komentar-komentar terhadap kompleksitas zaman masih menggunakan strategi lama berikut harapan-harapan normatif dari para juru kunci
disiplin-disiplin tradisional keilmuan.

Mungkin Anda membaca atau melihat kegeraman sejumlah pihak, demi mengetahui percakapan lewat telepon yang telah disadap, antara tersangka pelaku penyuapan dan beberapa jaksa. Hanya saja, bukankah ”mafia peradilan” sudah sejak lama menjadi kosakata kita? Ke mana saja perhatian terhadap praktik sehari-hari pelaksanaan hukum di sini? Ya, perhatian terhadap hal-hal kecil. Apa pengetahuan kita tentang kehidupan di dalam sel penjara, misalnya, kalau melihat Ibu Artalyta berpenampilan kinclong setiap kali muncul di pengadilan?

Disiplin hukum berikut pengetahuan mengenai ayat-ayat perundang-undangan tak bakal menyentuh itu semua. Sama halnya narasi besar Marxisme, mana mungkin menyentuh dunia konsumsi masa kini, yang membikin orang ulak-alik posisinya, kadang buruh, kadang babu, kadang konsumen yang dirajakan. Mungkin di sinilah kita perlu mengingat salah satu doktrin dari Centre for Contemporary Cultural Studies di Birmingham mengenai niat studi-studi kebudayaan. Yakni, seperti dirumuskan Stuart Hall, ”...untuk membuat orang bisa memahami apa yang tengah terjadi, dan terutama untuk menyediakan cara berpikir, strategi survival, dan sumber pertahanan.€

Antidisiplin
Dalam beberapa hal, studi- studi kebudayaan memang cenderung menjadi arus pemikiran pinggiran, meski pada suatu masaâ€"khususnya di Inggris dan Amerikaâ€"pernah mengalami booming seperti lukisan kontemporer sekarang. Banyak orang mempertanyakan disiplin apa itu studi-studi kebudayaan. Tidak adanya definisi yang pasti atau bahkan jawaban sengit dari para eksponennya bahwa studi-studi kebudayaan adalah ”antidisiplin” membuat para disipliner akademis kian apriori terhadapnya.

Lawrence Grossberg dan teman-temannya pernah mencoba merangkum apa yang dihasilkan dari konferensi internasional berskala besar pada zamannya, ”Cultural Studies Now and in the Future”, di Universitas Illinois tahun 1990. Untuk memahami studi-studi kebudayaan, menurut mereka, diperlukan pengetahuan terhadap disiplin-disiplin ilmu tradisional. Domain, metode ilmu-ilmu tradisonal itu adalah warisan intelektual yang bakal berguna untuk memahami studi-studi kebudayaan.

Hanya saja, mereka menggarisbawahi, tidak satu pun elemen-elemen tersebut membuat studi-studi kebudayaan menjadi disiplin tradisional. Bahkan, studi-studi kebudayaan bukanlah sebuah ilmu interdisipliner. Graeme Turner dalam esainya menyebutkan, termotivasi, setidaknya sebagian, oleh disiplin-disiplin (tradisional), studi- studi kebudayaan menjadi enggan untuk menjadi salah satu di antaranya. Metodologinya, pilihan praktiknya adalah pragmatis, strategis, dan reflektif.

Dengan itu semua, studi-studi kebudayaan memang kadang kelihatan sebagai interdisipliner, transdisipliner, atau bahkan sebagai disiplin tandingan, yang beroperasi di antara ketegangan untuk mencakup sesuatu yang luas, antropologis di satu pihak dan konsepsi yang lebih sempit di lain pihak. Antropologi yang dimaksud di sini pun bukan antropologi tradisional seperti banyak diasosiasikan orang, melainkan semacam analisis terhadap masyarakat industri modern. Dia tidak mematok mati
pengertian kebudayaan sebagai sesuatu yang ”tinggi”. Semua bentuk produksi kebudayaan perlu dipelajari dalam relasinya dengan berbagai praktik kultural yang lain serta hubungannya terhadap pembentukan struktur sosial dan historis.

Menarik dan problematis
Sampai di sini, kalau yang namanya studi-studi kebudayaan hendak dioperasikan dalam media massa, misalnya, ia tak akan berhenti sampai pada komentar para pemikir teologi ketika melihat merebaknya kekerasan yang ditengarai dilakukan oleh orang- orang beragama. Pertanyaan berikut bisa ke hal-hal ”remeh-temeh”, geladi fisik semacam apa yang dilakukan oleh para pelaku itu sehingga mereka terlihat begitu terlatih memukuli orang. Atau asumsi bahwa itu dilakukan kalangan beragama jangan-jangan salah sehingga harus ditelusuri anasir-anasir lain?

Apakah gejala politik masih harus dibaca semata-mata dari prinsip-prinsip ideologi, kalau mengingat bahwa puluhan tahun terakhir kan tidak ada lagi karya yang berwawasan ideologis seperti Madilog karya Tan Malaka dulu? Gejala politik sekarang jangan-jangan baru bisa dibaca kalau kita mempelajari gaya hidup para politikus, para anggota Dewan, yang suka kongkow di hotel-hotel? Berfoto peluk-pelukan tanpa baju di motel, sebelum ”renang”? Dari asketisme, perjuangan telah
bermutasi menjadi pemuasan hasrat hedonis? Ini tak ada hubungannya dengan aliran politik, kiri, kanan, tengah, ataupun bawah. Dalam hal ini, siaran televisi kita telah memberikan tanda-tanda menarik untuk dikaji secara semiotik.

Soal pluralisme, adakah memang menjadi persoalan sebagian besar rakyat yang hidup di desa-desa, gunung-gunung kalau mengingat mereka umumnya biasa-biasa saja mendapati keanehan tetangga? Mungkinkah yang perlu dikaji jangan-jangan cuma lingkungan terbatas yang punya akses ke media massa, yang menggembar-gemborkan bahwa sebuah pihak tengah menimbulkan keresahan? Kalau problematik pluralisme itu cuma menjadi persoalan kelompok terbatas tadi, lalu apa motivasi mereka? Interest mereka, dan lain-lain. Sebegitu jeniuskah pengelolaan isu oleh pemerintah, masyarakat dibuat pusing dengan isu besar yang selalu berubah setiap hari sehingga mereka lupa mempersoalkan ketidakbecusan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang paling dasar?

Begitulah kira-kira sifat pragmatis, strategis, dan reflektif dari studi-studi kebudayaan beroperasi. Dia tidak puas dengan jawaban-jawaban normatif disiplin-disiplin tradisional akademis. Kalau kita berasumsi bahwa teknologi komunikasi adalah faktor determinan untuk perselingkuhan, terasa basi mendengar petuah para orang pintar, sebaiknya orang tidak berselingkuh. Studi- studi kebudayaan bisa menelusur, setelah telepon seluler begitu mudah disadap, kira-kira bagaimana mas-mas dan mbak-mbak para peselingkuh berkomunikasi?

Menarik kan? Ditarik ke wilayah politik, hal-hal seperti itu bahkan juga bisa problematik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar