YANG unik dari kawasan wisata kawah Ijen ini adalah kehidupan para pekerja tambang belerang. Para perkerja ini dengan tekun mengangkut belerang dengan beban mencapai berat 85 kilogram per sekali angkut. Beban ini luar biasa berat. Apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh tiga kilometer.
Penghasilan yang diterima seorang penambang belerang dalam sekali angkut rata-rata Rp 51, karena upah angkut per kilogramnya dihargai Rp 600. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali angkut setiap harinya, mengingat beratnya pekerjaan dan jalan yang dilalui.
Penambang tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia, yaitu di Welirang dan Ijen. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil oleh pekerja tambang. Sebelumnya belerang dipotong dengan bantuan linggis dan kemudian langsung diangkut menggunakan keranjang.
Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda yang dikenal dengan "Pengairan Kawah Ijen" yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di pos inilah para penambang menimbang muatannya dan mendapat-kan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.
Sungguh ironis memang nasib para penambang ini. Selain beban berat, risiko yang mengancam juga tidak sebanding dengan upah yang diterima para penambang tersebut, karena rata-rata penghasilan mereka setiap harinya hanya sekitar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 atau Rp 300 per kilogram. Para pekerja ini akan mengumpulkan belerang yang dibawa di Pos Bundar, yakni sebuah pos peninggalan Belanda yang bertuliskan "Pengairan Kawah Ijen" untuk selanjutnya ditimbang.
Gunung kawah ijen memiliki sumber daya gunung api bervariasi dan sangat potensial. Di antaranya sublimat belerang yang sudah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia. Sumber mata air panas bertipe asam sulfat khlorida dengan suhu 70 derajat Celcius dan pH sekitar 2,6 terdapat di dekat lapangan solfa-tara Ijen.
Danau kawah Ijen merupakan reaktor multi komponen, yang di dalamnya terjadi berbagai proses, baik fisika maupun kimia. Antara lain pelepasan gas mag-matik, pelarutan batuan, pengendapan, pembentukan material baru dan pelarutan kembali zat-zat yang sudah terbentuk, sehingga menghasilkan air danau yang sangat asam dan mengandung bahan terlarut dengan konsentrasi sangat tinggi.
Penghasilan yang diterima seorang penambang belerang dalam sekali angkut rata-rata Rp 51, karena upah angkut per kilogramnya dihargai Rp 600. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali angkut setiap harinya, mengingat beratnya pekerjaan dan jalan yang dilalui.
Penambang tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia, yaitu di Welirang dan Ijen. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil oleh pekerja tambang. Sebelumnya belerang dipotong dengan bantuan linggis dan kemudian langsung diangkut menggunakan keranjang.
Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda yang dikenal dengan "Pengairan Kawah Ijen" yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di pos inilah para penambang menimbang muatannya dan mendapat-kan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.
Sungguh ironis memang nasib para penambang ini. Selain beban berat, risiko yang mengancam juga tidak sebanding dengan upah yang diterima para penambang tersebut, karena rata-rata penghasilan mereka setiap harinya hanya sekitar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 atau Rp 300 per kilogram. Para pekerja ini akan mengumpulkan belerang yang dibawa di Pos Bundar, yakni sebuah pos peninggalan Belanda yang bertuliskan "Pengairan Kawah Ijen" untuk selanjutnya ditimbang.
Gunung kawah ijen memiliki sumber daya gunung api bervariasi dan sangat potensial. Di antaranya sublimat belerang yang sudah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia. Sumber mata air panas bertipe asam sulfat khlorida dengan suhu 70 derajat Celcius dan pH sekitar 2,6 terdapat di dekat lapangan solfa-tara Ijen.
Danau kawah Ijen merupakan reaktor multi komponen, yang di dalamnya terjadi berbagai proses, baik fisika maupun kimia. Antara lain pelepasan gas mag-matik, pelarutan batuan, pengendapan, pembentukan material baru dan pelarutan kembali zat-zat yang sudah terbentuk, sehingga menghasilkan air danau yang sangat asam dan mengandung bahan terlarut dengan konsentrasi sangat tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar